MEDIA PENDIDIKAN EKONOMI & POLITIK

Senin, 08 November 2010

Sosialisme dan Kaum Tani [1]

 

Sosialisme dan Kaum Tani [1]

V.I. Lenin (1905)


Sumber: V.I.Lenin, Kumpulan Karya, Edisi Rusia Keempat, Jilid 9, hal. 280-288
Penerjemah: Diketik kembali untuk Situs Indo-Marxist dari buku Yayasan ”Pembaruan” Jakarta 1960 dengan sedikit perubahan ejaan.


Revolusi, yang sedang dialami Rusia, adalah revolusi seluruh Rakyat. Kepentingan-kepentingan seluruh Rakyat telah menjadi pertentangan tak terdamaikan dengan kepentingan-kepentingan segelintir orang-orang yang menyusun pemerintah otokrasi dan yang mendukungnya. Adanya masyarakat modern itu sendiri, yang didirikan di atas dasar ekonomi barang dagangan, dengan adanya perbedaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan yang amat besar dari kepentingan-kepentingan pelbagai klas dan golongan penduduk, menuntut penghancuran otokrasi, menuntut pembebasan politik, pernyataan secara terang-terangan dan langsung dari kepentingan-kepentingan klas-klas yang berkuasa dalam menyusun dan memerintah negara. Perombakan demokratis yang burjuis menurut hakekat sosial-ekonomi tak dapat tidak menyatakan kebutuhan-kebutuhan seluruh masyarakat burjuis.

Tetapi masyarakat itu sendiri, yang sekarang nampaknya bersatu dan utuh dalam perjuangan melawan otokrasi, sudah pasti terpecah oleh jurang antara kapital dan kerja. Rakyat, yang telah berontak melawan otokrasi, bukanlah Rakyat yang bersatu. Pemilik-pemilik dan buruh-buruh upahan, sejumlah orang-orang kaya (“sepuluh ribu orang-orang atasan”) yang tak berarti dan puluhan juta orang tak berpunya dan yang bekerja, itu sesungguhnya merupakan “dua nasion”, sebagaimana dikatakan orang Inggeris yang berpandangan jauh sudah pada pertengahan pertama abad ke-XIX. Perjuangan antara proletariat dan burjuasi sedang menjadi acara diseluruh Eropa. Perjuangan itu  sudah lama merembes juga ke Rusia. Di Rusia moden bukanlah dua kekuatan yang sedang berjuang yang membentuk isi revolusi, melainkan dua perang sosial yang berbeda-beda dan berlainan jenisnya: yang satu berlangsung dalam kandungan masyarakat otokrasi perhambaan dewasa ini, yang lain – dalam kandungan masyarakat burjuis-demokratis yang akan datang, yang sudah sedang mulai lahir di hadapan mata kita. Yang satu merupakan perjuangan Rakyat untuk kebebasan (untuk kebebasan masyarakat burjuis), untuk demokrasi, yaitu untuk otokrasi Rakyat, yang lain – perjuangan klas dari proletariat melawan burjuasi untuk penyusunan masyarakat secara Sosialis.

Di atas pundak kaum Sosialis, dengan demikian, sedang terletak tugas yang besar dan sukar – melaksanakan sekaligus dua peperangan, yang samasekali berlainan, baik menurut watak dan tujuannya, maupun menurut susunan kekuatan-kekuatan sosial yang mampu ikut serta dengan tegas di dalam peperangan yang satu atau yang lain. Sosial-Demokrasi sudah dengan jelas mengajukan dan dengan tegas menyelesaikan tugas itu, berkat kenyataan, bahwa ia meletakkan pada dasar seluruh programnya Sosialisme ilmiah, yaitu Marxisme, berkat kenyataan, bahwa ia masuk sebagai salah satu barisan ke dalam balatentara kaum Sosial-demokrat dunia, yang telah menguji, memperkuat, menjelaskan dan mengembangkan lebih terperinci ketentuan-ketentuan Marxisme berdasarkan pengalaman serentetan panjang gerakan-gerakan demokratis dan Sosialis dari negeri-negeri Eropa yang sangat bermacam-macam.

Sosial-Demokrasi revolusioner sejak lama sekali memperlihatkan dan sudah berhasil memperlihatkan, bahwa demokratisme di Rusia memiliki watak burjuis, mulai dari variasi Narodisme-liberal sampai pada variasi “Oswobozjdeniye-Oswobozjdeniye" [2]. Ia selalu memperlihatkan ke-setengah-tengan, keterbatasan, kepicikan yang pasti dari demokratisme burjuis. Ia menempatkan di hadapan proletariat Sosialis dalam zaman revolusi demokratis suatu tugas: menarik pada pihaknya massa kaum tani dan dengan melumpuhkan ketidakmantapan burjuasi, mamatahkan dan mengancurkan otokrasi. Kemenangan yang menentukan dari revolui demokratis hanyalah mungkin dalam bentuk diktatur revolusioner-demokratis dari proletariat dan kaum tani. Tetapi semakin cepat dan penuh terlaksana kemenangan itu, semakin cepat dan mendalam pula akan berkembang kontradiksi-kontradiksi baru dan perjuangan klas yang baru di dalam sistim burjuis yang cukup didemokrasikan. Semakin sempurna kita melaksanakan revolusi demokratis, maka ternyata semakin dekat pula kita berhadaphadapan dengan tugas-tugas revolusi Sosialis, akan semakin tajam dan runcing pula perjuangan proletariat menentang dasar-dasar masyarakat burjuis itu sendiri.

Soal demokrasi harus terus menerus melancarkan perjuangan menentang segala penyelewengan dari pengajuan tugas-tugas revolusioner-demokratis dan Sosialis dari proletariat secara ini. Adalah mustahil untuk mengingkari hal, bahwa pada dasarnya revolusi yang sekarang ini berwatakdemokratis, yaitu burjuis, adalah mustahil karenanya untuk mengajukan semboyan-semboyan seperti pembentukan komune-komune revolusioner. Adalah mustahil dan reaksioner untuk meremehkan tugas-tugas ikutsertanya  proletariat, apalagi ikutsertanya secara memimpin, di dalam revolusi-demokratis, dengan menghindari, misalnya, semboyan diktatur-revolusioner-demokratis dari proletariat dan kaum tani. Adalah mustahil untuk mencampuradukkan tugas-tugas dan syarat-syarat revolusi demokratis dan revolusi Sosialis, yang berbeda-beda, kami ulangi, baik menurut wataknya, maupun menurut susunan kekuatan-kekuatan sosial yang ikut serta di dalamnya.

Justru mengenai kesalahan terakhir itulah ingin kita berbicara terperinci. Tidak berkembangnya pertentangan-pertentangan klas di kalangan Rakyat pada umumnya dan di kalangan kaum tani pada khususnya, adalah gejala yang tak terhindarkan dalam zaman revolusi demokratis, yang utnuk pertama kali membentuk dasar-dasar bagi perkembangan kapitalisme yang benar-benar luas. Dan tidak berkembangnya ekonomi ini mengakibatkan terus bertahannya dan hidup kembalinya dalam bentuk atau itu  bentuk-bentuk yang terbelakang dari Sosialisme yang merupakan Sosialisme burjuis kecil, karena meng-indealisasi perombakan-perombakan yang tidak keluar dari rangka hubungan-hubungan burjuis-kecil. Massa kaum tani tidak menyadari dan tidak dapat menyadari hal, bahwa “kebebasan” yang paling sempurna dan pembagian paling “adil” walaupun bahkan dari seluruh tanah bukan saja tidak menghancurkan kapitalisme, melainkan sebakinya, membentuk syarat-syarat untuk perkembangannya yang terutama luas dan terpaksa. Dan pada waktu, ketika Sosial-Demokrasi memilih dan mendukung hanya  isi revolusioner demokratis  dan cita-cita kaum tani itu, Sosialisme-burjuis kecil membuat ketidaksadaran kaum tani menjadi suatu teori, dengan mencampurbaurkan atau melebur menjadi satu syarat-syarat dan tugas-tugas  dari revolusi yang sungguh-sungguh demokratis dan revolusi Sosialis yang direka-reka.

Pernyataan yang paling menyolok dari ideologi burjuis kecil yang tidak jelas ini adalah program, lebih tepat, rancangan program kaum “Sosialis-Revolusioner" [3], yang semakin kurang berkembang pada mereka bentuk-bentuk dan prasyarat-prasyarat kepartaian, semakin terburu-buru memproklamasikan dirinya sebagai partai. Waktu menganalisa rancangan program mereka (lihat Vperyod [4] , No. 3), kami sudah mempunyai kesempatan untuk menunjukkan, bahwa akar dari pandangan-pandangan kaum  Sosialis-Revolusioner terletak pada Narodisme [5] Rusia lama. Tetapi karena  seluruh perkembangan ekonomi Rusia, seluruh jalannya Revolusi Rusia tanpa ampun dan tanpa belaskasihan merenggutkan tiap hari dan tiap jam landasan dari tonggak-tonggak Narodisme murni, maka pandangan-pandangan kaum Sosialis-Revolusioner tidak boleh tidak akan menjadi elektis. Mereka berusaha menjerumat lobang-lobang Narodisme dengan tambalan-tambalan “kritik” oportunis yang menjadi mode terhadap Marxisme, tetapi pakaian yang lapuk tidak menjadi kuat karena itu. Pada umumnya dan dalam keseluruhannya program mereka adalah sesuatu yang mutlak tidak berjiwa, yang penuh pertentangan intern, yang dalam sejarah Sosialisme Rusia semata-mata menyatakan salah satu tahap pada jalan dari Rusia-penghambaan ke-Rusia burjuis, pada jalan “dari Narodisme ke Marxisme”. Definisi ini yang tipikal bagi serentetan aliran yang agak kecil dari fikiran revolusioner zaman sekarang, berlaku juga bagi rancangan yang terbaru dari program agraria Polska Partia Socyalistycna (PPS) [6] yang diterbitkan dalam No. 6-8 Przedswit [7].
Rancangan itu membagi program agraria menjadi dua bagian. Bagian I menguraikan “reforma-reforma yang untuk pelaksanaannya syart-syarat sosialnya telah matang”; bagian II “memformulasi penyempurnaan dan integrasi reforma-reforma agraria yang diuaraikan dibagian I”. Bagian I, pada gilirannya dibagi dalam tiga sub-bagian: A) perlindungan kerja – tuntutan-tuntutan demi keuntungan proletariat pertanian; B) reforma-reforma agraria (dalam arti kata yang sempit, atau kalau boleh dikatakan, tuntutan-tuntutan kaum tani) dan C) perlindungan penduduk desa (swatantra dan sebagainya).
Satu langkah ke arah Marxisme dalam program ini yalah percobaan memisahkan sesuatu yang menyerupai program minimum dari program maksimum – kemudian pengajuan secara samasekali bebas tuntutan-tuntutan yang berwatak proletar murni – selanjutnya, pengakuan dalam preambul program itu, bahwa bagi kaum Sosialis samasekali tidak diperbolehkan untuk “melakukan cara memuji-muji naluri-naluri pemilikan dari massa kaum tani”. Sesungguhnya, jika seandainya dipikirkan secara sungguh-sungguh kebenaran yang terkandung dalam ketentuan terakhir ini dan mengembangkannya dengan konsekwen sampai akhir, maka pasti akan terdapat program yang sungguh-sungguh Marxis. Tetapi di situlah celakanya, bahwa PPS, yang mengeruk ide-idenya dengan sama gairahnya dari mataair kritik oportunis terhadap Marxisme, bukanlah suatu partai proletar yang konsekwen. “Karena tendensi milik-tanah untuk pemusatan tidak terbukti”, kita baca di dalam preambul program, “maka adalah tak terbayangkan untuk tampil membela bentuk-bentuk ekonomi itu dengan penuh kejujuran dan kepercayaan dan meyakinkan kaum tani, bahwa usaha-usaha tani kecil tak dapat tidak akan lenyap”.
Itu tak lain daripada gema ekonomi politik burjuis. Ahli-ahli ekonomi burjuis dengan seluruh daya upauanya berusaha memaksakan kepada kaum tani-kecil suatu ide bahwa kapitalisme dapat dirangkaikan dengan kesejahteraan pemilik tanah-kecil. Mereka karena itu menyelubungi persoalan umum tentang ekonomi barang dagangan, tentang penindasan kapital, tentang kemeosotan dan perendahan perekonomian tani-kecil dengan soal khusus mengenai pemusatan pemilik-tanah. Mereka menutup mata terhadap hal, bahwa produksi besar-besaran  dalam cabang-cabang perdagangan khusus dari pertanian juga berkembang pada pemilik tanah yang kecil maupun yang sedang, dan milik jenis ini sedang menjadi semakin merosot sebagai akibat naiknya sewa tanah, maupun di bawah beban penggadaian-penggadaian dan tekanan lintah darat. Mereka menghindari begitu saja suatu fakta yang tak dapat dibantah tentang keunggulan tehnis dari perusahaan besar di bidang pertanian dan meremehkan syarat-syarat hidup kaum tani dalam perjuangannya melawan kapitalisme. Dalam kata-kata PPS tidak ada apapun juga selain pengulangan prasangka-prasangka burjuis itu, yang dihidupkan kembali oleh para David-David [8] zaman sekarang.
Ketidak teguhan pandangan-pandangan teoritis mempengaruhi juga prgram praktis. Ambillah bagian I – reforma-reforma agraria dalam arti kata yang langsung. Di situ pihak kawan-kawan akan membaca pasal 5) “Penghapusan segala pembatasan dalam pembelian tanahpembagian-tanahpembagian dan 6) penghapusan szarwark-szarwark [9] dan pengangkutan wajib (rente berbentuk kerja)”. Itu adalah tuntgutan-tuntutan minimal yang betul-betul Marxis. Dengan menganjurkannya (terutama pasal 5), PPS maju selangkah ke depan dibandingkan dengan kaum Sosialis-Revolusioner kita, yang bersama dengan Moskovskiye Wedomosti [10] tertarik kepada hal-hal yang terkenal jelek itu – “tanahpembagian-tanahpembagian yang tak dapat pindah tangan”. Dengan mengajukannya, PPS mendekati ide Marxisme tentang perjuangan melawan sisa-sisa sistim penghambaan, sebagai dasar dan isi dari gerakan kaum tani sekarang. Tetapi dalam mendekati ide ini, PPS jauh dari menerima ide itu secara penuh dan sadar.
Pasal-pasal pokok dari program minimum yang kita tinjau berbunyi : “1) nasionalisasi tanah milik keluarga tsar, pemerintah dan milik gereja dengan jalan pensitaan; 2) nasionalisasi milik tanah besar kalau tak ada pewarisnya yang langsung; 3) nasionalisasi hutan, sungai dan danau”. Tuntutan-tuntutan itu mengandung semua kekurangan dari program yang mengutamakan untuk masa kini tuntutan nasionalisasi tanah. Selagi di hadapan kita belum ada kebebasan politik yang penuh dan otokrasi Rakyat, selagi belum ada republik demokratis, mengemukakan tuntutan nasionalisasi adalah belum pada waktunya dan tak masuk akal, sebab nasionalisasi adalah perpindahan milik ke tangan negara, sedangkan negara sekarang ini adalah negara kepolisian dan berklas, dan negara mendatang bagaimanapun akan berklas juga. Dan sebagai semboyan, yang membawa ke depan ke arah demokratasasi, tuntutan itu adalah terutama tidak berguna, sebab tuntutan itu memusatkan titik berat persoalan bukannya  pada hubungan kaum tani dengan tuantanah (kaum tani mengambil tanah tuantanah), melainkan pada hubungan tuantanah dengan negara. Cara pengajuan masalah demikian adalah samasekali palsu untuk saat, ketika kaum tani dengan cara revolusioner berjuang untuk merebut tanah melawan tuantanah, maupun melawan negara tuantanah. Komite Revolusioner Kaum Tani untuk pensitaan, sebagai alat pensitaan, -- itulah semboyan satu-satunya yang sesuai dengan saat ini dan yang mendorong maju perjuangan klas melawan tuantanah dalam hubungan yang tak terpisahkan dengan pengahancuran secara revolusioner negara tuantanah.
Pasal-pasal yang lain dari program minimum agraria dalam rancangan PPS adalah sebagai berikut: “4) pembatasan hakmilik, karena ia sedang menjadi penghalang untuk segala macam perbaikan (miliorasi) dalam cocoktanam, ketika perbaikan-perbaikan itu akan diakui sebagai yang perlu oleh mayoritas mereka yang berkepentingan …….7) nasionalisasi asuransi gandum dari kebakaran dan kerugian karena hujam es dan ternak dari penyakit menular: 8) bantuan menurut undang-undang dari pihak negara kepada pembentukan artel-artel dan koperasi-koperasi cocoktanam; 9) sekolah-sekolah agronomi”.
Pasal itu seluruhnya sesuai dengan jiwa pandangan-pandangan kaum Sosialis-Revolusioner, atau (sama saja) seluruhnya sesuai dengan jiwa reformatorisme burjuis. Dalam pasal-pasal itu tidak ada  sesuatu apapun yang revolsuioner. Pasal-pasal itu, tentu saja, adalah progresif, ini tidak dapat dibantah, tetapi pasal-pasal itu progresif dari sudut pandangan kepentingan-kepentingan kaum pemilik. Mengedepankannya oleh pihak kaum Sosialis berarti justru melakukan cara memuji-muji naluri-naluri pemilikan. Mengedepankannya berarti sama saja seperti menuntut dukungan  negara terhadap trust, kartel, sindikat, perhimpunan-perhimpuan kaum industrialis, yang tidak kurang “prograsif” daripada koperasi, asuransi, dsb. Di bidang cocok tanam. Itu semua adalah kemajuan secara kapitalis. Mengkhawatirkan itu bukanlah urusan kita, melainkan urusan kaum majikan, pengusaha-pengusaha. Sosialisme proletar, berbeda dari Sisalisme  burjuis-kecil, membiarkan Count de Rocquijny [11], tuantanah-tuantanah pemilik tanah, dsb. Untuk memperhatikan koperasi pemilik-pemilik tanah, besar dan kecil, -- sedangkan ia sepenuhnya dan semata-mata mengurus koperasi-koperasi pekerja-pekerja upahan dengan tujuan perjuangan melawan kaum majikan.
Lihatlah sekarang bagian ke-II dari program. Ia terdiri dari satu pasal seperti berikut:”Nasionalisasi tanah-milik besar dengan jalan pensitaan. Tanah-tanah yang dapat ditanami dan padang-padang rumput yang diperoleh Rakyat dengan cara demikian harus dibagikan habis menjadi tanahpembagian-tanahpembagian dan diserahkan kepada kaum tani yang tak punya tanah dan yang sedikit mempunyainya dengan sewa jangka panjang yang terjamin”.
“Penyempurnaan” yang baik, bukan main ! Partai yang menamakan dirinya Sosialis, dalam bentuk “penyempurnaan dan integrasi reforma-reforma agraria”, menyajikan samasekali bukan penyusunan Sosialis dari masyarakat, melainkan utopi burjuis-kecil yang bukan-bukan. Di hadapan kita terdapat contoh yang paling menyolok dari pengeliruan sepenuhnya revolusi demokratis dengan revolusi Sosialis, dan kegagalan sepenuhnya untuk memahami perbedaan dalam tujuan-tujuannya masing-masing.Perpindahan tanah dari tuantanah-tuantanah kepada kaum tani dapat merupakan – dan di mana saja di Eropa telah merupakan – bagian komponen dari revolusi demokratis, salah satu tingkatan dari revolusi burjuis, tetapi hanya kaum radikal burjuis dapat menamakannya penyempurnaan atau penyelesaian  sampai akhir. Pembagian kembali tanah antara golongan pemilik yang ini atau itu, klas-klas majikan yang ini atau itu, mungkin menguntungkan dan perlu untuk kepentingan kemenangan demokrasi, untuk kepentingan penghapusan sampai se-akar-akarnya bekas-bekas sistim perhambaan, peningkatan taraf hidup massa, percepatan perkembangan kapitalisme, dsb., -- dukungan yang paling tegas terhadap tindakan semacam itu mungkin menjadi kewajiban bagi proletariat Sosialis dalam zaman revolusi demokratis, tetapi yang dapat menjadi “penyempurnaan dan penyelesaian sampai akhir” yalah hanya produski Sosialis, dan bukan produksi tani kecil, di mana masih tetap ada ekonomi barangdagangan dan kapitalisme, merupakan utopi burjuis-kecil reaksioner dan tak lebih dari itu.
Kita melihat sekarang, bahwa kesalahan pokok PPS bukanlah khas bagi dia saja, bukanlah suatu kejadian tersendiri atau suatu yang kebetulan.Ia menyatakan dalam bentuk yang lebih jelas dan terang (daripada “Sosialisasi” yang terkenal jelek itu dari kaum Sosialis-Revolusioner itu sendiri) kesalahan pokok dari seluruh Narodisme Rusia, seluruh liberalisme dan radikalisme burjuis Rusia dalam masalah agraria sampai pada macamnya yang menyatakan diri dalam perdebatan-perdebatan pada kongres kaum Zemstwo [12] baru-baru ini (September) di Moskwa.
Kesalahan pokok ini dapat dinyatakan seperti berikut: Dalam pengajuan tujuan-tujuan terdekat, program PPS tidak revolusioner. Dalam tujuan-tujuan terakhirnya, ia tidak Sosialis.
Dengan kata-kata lain: kegagalan untuk memahami perbedaan antara revolusi demokratis dan revolusi Sosialis menyebabkan hal, bahwa dalam tugas-tugas demokratis tidak dinyatakan segi-segi revolusionernya yang sungguh-sungguh, sedangkan ke dalam tugas Sosialis dimasukkan segala kekaburan pandangandunia burjuis demokratis. Akibatnya, di depan kita terdapat semboyan yang tidak cukup revolusioner bagi kaum demokrat dan yang kusut hingga tak dapat dimaafkan bagi kaum Sosialis.
Sebaliknya, program Sosial-Demokrasi memenuhi semua tuntutan dalam mendukung demokratisme yang betul-betul revolusioner, maupun dalam mengemukakan tujuan Sosialis yang jelas. Dalam gerakan kaum tani sekarang ini kita melihat perjuangan melawan sistim penghambaan, perjuangan melawan tuantanah dan negara tuantanah. Perjuangan itu kita dukung sampai akhir. Untuk dukungan seperti itu satu-satunya semboyan yang benar yalah: pensitaan melalui Komite-Komite Revolusioner Kaum Tani. Bagaimana selanjutnya dengan tanah yang disita, -- itu adalah persoalan sekunder. Bukan kita yang akan menyelesaikannya, tetapi kaum tani. Dalam penyelesaiannya justru akan mulai perjuangan antara proletariat dan burjuasi di kalangan kaum tani. Karena itulah kita membiarkan persoalan itu terbuka ( hal mana begitu tidak disenangi oleh pengkhayal-pengkhayal burjuis kecil), atau dari pihak kita hanya menunjukkan permulaan jalan yang harus ditempuh, yang menuntut perebutan bidang-bidang tanahpotongan [13] ( hal mana, bertentangan dengan penjelasan yang banyak jumlahnya dari Sosial-Demokrasi, orang-orang yang malas berfikir anggap sebagai perintang gerakan).
Hanya ada satu cara supaya reforma agraria yang tak terelakkan di Rusia sekarang, memainkan peranan yang demokratis-revolusioner: ia mesti dilaksanakan dengan inisiatif revolusioner dari kaum tani sendiri, bertentangan dengan tuantanah-tuantanah yang birokrasi, bertentangan dengan negara, yaitu ia mesti dilaksanakan dengan cara-cara revolusioner. Pembagian tanah secara paling jelek setelah perombakan semacam itu akan lebih baik daripada yang ada sekarang ini, ditinjau dari segala segi. Dan jalan inilah yang kita tunjukkan, sambil mengajukan sebagai yang pokok tuntutan pembentukan Komite-Komite Revolusioner Kaum Tani.
Akan tetapi di samping itu kita mengatakan kepada proletariat desa: “Kemenangan yang paling radikal dari kaum tani, yang kawan-kawan harus bantu sekarang dengan semua kekuatan, tidak akan membebaskan kawan-kawan dari kemelaratan. Untuk tujuan ini hanya ada satu cara: kemenangan seluruh proletariat pertanian – atas seluruh burjuasi, dan penyusunan masyarakat Sosialis”.
Bersama dengan kaum tani-majikan melawan tuantanah dan negara tuantanah, bersama dengan proletariat kota melawan seluruh burjuasi dan semua kaum tani pemilik. Beginilah semboyan proletariat desa yang sadar. Dan kalau majikan-majikan kecil tidak segera menerima semboyan ini atau bahkan kalaua mereka menolak menerimanya samasekali, semboyan ini bagaimanapun akan menjadi semboyan kaum buruh, ia akan apsti diperkuat oleh seluruh revolusi, ia akan menyelamatkan kita dari ilusi-ilusi burjuis kecil, ia akan menunjukkan kepada kita dengan jelas dan penuh ketentuan tujuan Sosialis kita.
 
Proletari, No.20
10 Oktober (27 September) 1905.


KETERANGAN:
[1] Artikel-artikel yang masuk dalam kumpulan karya ini ditulis oleh W.I. Lenin selama dan setelah revolusi Rusia pertama 1905-1907. Artikel-artikel ini menganalisa imbangan-imbangan kekuatan klas, mengkarakterisasi partai-partai politik dan menyelidiki pelajaran-pelajaran yang harus ditarik proletariat dari kalangan revolusi.
[2] Oswobozjdeniye – majalah tengah-bulanan, terbit di luarnegeri dari tanggal 18 Juni (1 Juli) 1902 sampai 5 (18) Oktober 1905 di bawah pimpinan P.B. Struwe. Majalah itu merupakan organ burjuasi liberal Rusia dan dengan konsekwen menjalankan ide-ide liberalisme monarki-moderat. Pada tahun 1903 di sekitar majalah itu terhimpun (dan pada Januari 1904 terbentuk) “Soyus Oswobozjdenia” (Perserikatan Kebebasan”), yang ada sampai bulan Oktober 1905. Bersama-sama dengan kaum Zemstwo-konstitusionalis, “kaum Oswobozjdeniye” menjadi inti dari partai Konstitusionil-Demokratis (Kadet) yang terbentu pada Oktober 1905 – Partai utama burjuasi monarki-liberal di Rusia.
[3] Kaum Sosialis-Revolusioner (Eser) – partai burjuis kecil di Rusia, timbul pada akhir tahun 1901 – awal tahun 1902. Kaum Eser tidak melihat adanya perbedaan klas antara proletariat dan kaum pemilik kecil, mengaburkan perpecahan dan kontradiksi klas di dalam kalangan kaum tani, menyangkal peranan pimpinan proletariat di dalam revolusi. Sebagai metode pokok perjuangan melawan otokrasi, kaum Eser memilih jalan teror perorangan.
Program agraria kaum Eser menuntut penghapusan milik perseorangan atas tanah dan perpindahannya pengurusan komune desa, pelaksanaan azas-azas “penyamarataan” dalam penggunaan tanah, dan juga mengembangkan koperasi. Dalam program itu, yang oleh kaum Eser dinamakan “sosialisasi tanah”, pada kenyataannya tak ada sesuatu yang bersifat Sosialis, karena produksi barang-dagangan dan perekonomian swasta atas tanah umum tidak menghilangkan kekuasaan kapital, tidak membebaskan kaum tani pekerja dari eksploitasi dan kebangkrutan. Akan tetapi tuntutan-tuntutan untuk penyamarataan dalam penggunaan tanah, biarpun tak bersifat Sosialis, dari sudut sejarah mempunyai sifat progresif revolusioner-demokratis, karena tuntutan-tuntutan itu ditujukan untuk melawan pemilikan tanah oleh tuantanah reaksioner.
Ketidak homogenan klas di kalangan kaum tani menyebabkan ketidakteguhan ideologi dan politik dan keterbengkalaian di dalam partai kaum Eser, kebimbangan yang tetap antara burjuasi liberal dan proletariat. Setelah revolusi 1905-1907 partai kaum Eser mengalami keruntuhan organisasi dan ideologi yang penuh.
[4] Vperyod – suratkabar harian ilegal Bolsyewik; diterbitkan di luarnegeri, di Jenewa, sejak tanggal 22 Desember 1904 (4Januari 1905) sampai  tanggal  5 (18) Mei 1905.  Suratkabar  itu  memainkan peranan besar dalam mempersatukan komite-komite setempat, dalam mengolah strategi dan taktik Partai dalam saat Revolusi Burjuis-Demokratis 1905-1907.Suratkabar itu dipimpin oleh W.I.Lenin
[5] Narodisme – aliran idologi-politik di Rusia, yang timbul pada tahun 70-an abad XIX. Ciri-ciri khas daripandangan dunia Narodisme adalah pengingkaran terhadap peranan pimpinan klas buruh dalam gerakan revolusioner; pandangan yang salah mengenai hal, bahwa revolusi Sosialis dapat dilaksanakan oleh pemilik-kecil, petani; tanggapan atas komune desa, yang dalam kenyataannya merupakan sisa-sisa feodalisme dan sistim perhambaan di pedesaan Rusia, sebagai sel Sosialisme, dsb. Sosialisme kaum Narodnik adalah Sosialisme utopis, kerena tidak bersandar pada perkembangan yang sesungguhnya dari masyarakat, melainkan merupakan hanya frase, angan-angan, perngharapan baik.
[6] PPS – Partai Sosialis Polandia – partai nasionalis reformis yang dibentuk pada tahun 1892. Pada tahun 1906 PPS pecah menjadi PPS “Kiri”, yang berada di bawah pengaruh kaum Bolsyewik, dan PPS – “Kanan” yang sovinis.
[7] Przedswit (Fajar) – majalah politik Partai Sosialis Polandia (PPS), terbit sejak tahun 1884 sampai tahun 1920.
[8] David, Eduard – salah seorang pemimpin oportunisme, seorang ahli ekonomi Jerman. Bukunya “Sosialisme dan Pertanian” Lenin menamakan sebagai “kerja pokok revisionis dalam soal agraria”.
[9] Szarwark – kerja-wajib di mana dipakai tenaga kerja manusia dan kuda-tarikan serta alat-alat pengangkutan lainnya, yang dikenakan pada kaum tani di Polandia dan dilaksanakan sebagai cara kerja paksa untuk membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan dan obyek-obyek lain bagi penggunaan masyarakat dan negara.
[10] Moskowskiye Wedomosti—salah satu suratkabar yang paling tua di Rusia, terbit sejak tahun 1756 sampai 1917. Sejak tahun 1905 – adalah salahsatu suratkabar yang paling reaksioner.
[11] Rocquigny, Robert – ahli ekonomi burjuis Perancis.
[12] Kaum Zemstwo – tokoh-tokoh Zemstwo-Zemstwo – badan-badan pemerintah-sendiri setempat dengan hak-hak yang sangat terbatas, dipraktekkan di Gubernia-Gubernia Rusia Tengah sejak tahun 1864. Di antara kaum Zemstwo terdapat wakil-wakil kaum intelek dan tuantanah-tuantanah liberal, yang bersemangat oposisi terhadap otokrasi. Tetapi, sambil berada dalam oposisi, kaum Zemstwo pada waktu itu juga takut akan perkembangan selanjutnya dari revolusi tahun 1905-1907
[13] Tanahpotongan – bidang-bidang tanah, yang diambil oleh tuantanah dari kaum tani pada waktu pembatalan sistim perhambaan di Rusia pada tahun 1861.

IMF Setujui Reformasi Mengenai Hak Suara


Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Dominique Strauss-Kahn menyatakan bahwa badan direktur eksekutif IMF sudah menyetujui reformasi terkait hak dalam voting di IMF.
“Reformasi sepenuhnya akan diadopsi oleh dewan pengurus,” kata pejabat IMF dalam sebuah konferensi pers di Washington.
Ditambahkan, pihaknya akan berkomitmen untuk mengalihkan sebagian besar kuota atau kekuatan voting dari negara-negara maju kepada negara-negara berkembang yang ekonominya cukup dinamis.
Dalam reformasi baru itu, lebih dari 6% suara akan bergeser ke tangan negara berkembang, dan Tiongkok akan menjadi anggota terbesar ketiga dalam organisasi internasional yang berbasis di Washington tersebut.
Strauss Kahn menilai keputusan ini sebagai langkah penting untuk keterwakilan dan legitimasi IMF di mata angota-anggotanya.
Dia mengakui bahwa reformasi IMF telah mengambil banyak energy dan waktu sejak tahun lalu. “Saya sangat senang masalah ini bisa diselesaikan,” katanya.


AS Masih Memegang Hak Veto
Sementara pejabat senior di kementerian Luar Negeri Tiongkok pada hari jumat mengatakan langkah perubahan kuota atau redistribusi kekuasaan ini sebagai langkah awal untuk reformasi IMF.
Dalam pertemuan G-20 di Soul, Korea Selatan, pada oktober lalu,  para menteri G20 setuju dengan pengalihan sekitar 6% suara di IMF kepada sejumlah negara berkembang yang tumbuh paling pesat.
Dalam pertemuan itu disuarakan untuk dialihkan kepada negara-negara baru yang belum terwakili, seperti Tiongkok, India dan Brazil.
Meski demikian, Amerika Serikat tetap akan memegang hak veto atas keputusan-keputusan penting.
Setiap keputusan penting memerlukan dukungan 85% suara, sedangkan Amerika Serikat sudah mengantongi 17% suara. Situasi ini akan tetap memberi keuntungan kepada negara imperialis ini.

Puluhan Ribu Rakyat Korea Protes Pertemuan G-20



Sedikitnya 40.000 ribu anggota serikat buruh, mahasiswa, dan aktivis melancarkan protes terkait pelaksanaan pertemuan G-20 di Soul, Korea selatan.
Demonstran menyerukan penentangan terhadap agenda G-20 dan meneriakkan slogan-slogan anti-globalisasi.
Mereka mengatakan pertemuan G-20 tidak memfokuskan pembicaraan mengenai penciptaan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan sosial.
Meskipun demonstran hanya melancarkan aksi damai, namun polisi anti-huruhara langsung menyerang demonstran dan menyemprotkan lada pada kerumunan demonstran dan memaksa mereka untuk mundur.
Sebuah laporan menyebutkan bahwa Polisi menangkap empat orang demonstran saat bentrokan berlangsung.
Aksi ini sebagian besar diorganisir oleh Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU), serikat buruh terbesar di negeri itu.


Menentang FTA dengan AS
Para demonstran juga menyatakan penolakan terkait persetujuan Free Trade Agreement Korea Selatan-AS.
Salah satu isu penting dari kesepakatan ini adalah permintaan AS agar Korsel memberikan konsensi terkait sektor industri otomotif dan daging.
Serikat buruh memperingatkan bahwa negaranya tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa dari skema perdagangan ini dan meminta pemerintah untuk tidak bertindak gegabah.

Mahasiswa Korban Merapi Butuh Keringanan Biaya Kuliah


Letusan merapi beberapa hari yang lalu bukan saja meninggalkan duka mendalam bagi para korban, tetapi juga menciptakan kesulitan-kesulitan untuk menjalani hidup di hari esok.
Kesulitan besar kini sedang dialami sejumlah mahasiswa korban letusan merapi. Mereka mengaku mengalami kesulitan untuk membiayai kuliahnya karena sebagian besar harta benda telah ditelan oleh amukan merapi.
Seperti dirasakan oleh Reni, mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah di kampus UAD Yogyakarta. Selain kehilangan rumahnya, Reni juga kehilangan ayah tercinta yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarganya.
Nasib serupa juga dialami oleh Gladian Listy Raharjo, mahasiswa pendidikan bahasa Inggris di kampus UST, ) yang rumahnya terletak tidak jauh dari merapi, tepatnya di desa sawungan. Gladian juga mengaku kehilangan rumahnya dan kini menjadi pengungsi di stadion Maguwoharjo.
“Kami mengharapkan keringanan biaya kuliah karena rumah kami hancur dan kiranya pihak universitas ikut membantu,” katanya.


Angin Segar
Pada hari jumat lalu, Ketua Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia, Prof Dr H Edy Suandi Hamid, yang juga merupakan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), menghimbau agar perguruan tinggi dapat memberikan perlakuan khusus pada mahasiswa atau keluarganya yang menjadi korban.
“Diharapkan dapat memberikan perlakuan khusus pada mahasiswa atau keluarganya yang menjadi korban, baik pemberian bantuan hidup, beasiswa maupun penghapusan SPP,” katanya kepada wartawan.
Selain itu, professor juga menganjurkan agar relawan dan bantuan dari lembaga pendidikan tinggi tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi juga penanganan pasca bencana.

Sepenggal cerita mengenai keberhasilan aktivis mahasiswa menggagalkan perdagangan


Cerita menarik datang dari kawan-kawan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kota Banyumas. Mereka baru saja berhasil menggagalkan rencana perdagangan manusia oleh sebuah yayasan penyalur TKI fiktif.
Menurut penuturan Alvin Yulityas, salah seorang aktivis LMND Banyumas, aksi penggagalan ini berawal dari laporan LSM Seruni, bahwa ada sebuah yayasan penyalur TKI fiktif sedang menyekap sejumlah perempuan.
Segera setelah mendapatkan kabar itu, para aktivis LMND ini mendatangi rumah korban untuk mengecek kebenaran informasi ini. Mereka mendatangi rumah ibu Sri, salah seorang korban.
Kepada para aktivis LMND, keluarga Ibu Sri menceritakan bahwa seorang yang mengaku ketua yayasan TKI di Purwekerto mendatangi rumah korban dan menjemput paksa.
Setelah diteliti keberadaan yayasan yang dimaksud, diketahui adanya indikasi perdagangan manusia (human trafficking) karena sejumlah keganjilan, seperti yayasan tersebut tidak terdaftar di Disnaker dan pemalsuan sejumlah dokumen.
Segera setelah itu, aktivis LMND ini meluncur ke tempat yang diindikasikan tempat menyekap para korban. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aktivis pun melaporkan kejadian ini ke Polisi.
Sempat terjadi adu mulut antara aktivis dan pelaku, sebelum akhirnya polisi datang dan menangkap pelaku. Saat berita ini diturunkan, pelaku sedang menjalani pemeriksaan di kantor Polisi.
Modus Operandi
Modus operandi para pelaku tergolong sangat kasar. Awalnya, pelaku menjerat para calon korbannya dengan membuat mereka berutang, yaitu dengan memberikan pelatihan kerja dan bahasa.
“Jadi, korban ini dibawa ke Jakarta, lalu diberi pelatihan. Setelah itu, mereka dianggap berutang. Nah, itulah alasan untuk melakukan jemput paksa,” ujar Alvin dalam wawancara dengan Berdikari Online.
Tidak hanya itu, setelah para korban dibawa paksa dan ditaruh di penampungan sementara, para pelaku membuat dokumen-dokumen palsu mengenai identitas para korban, seperti Kartu Keluarga, SKCK, dan paspor.
Anehnya, setelah dicek ke pihak terkait macam Disnaker, ternyata yayasan-yayasan penyalur TKI itu tidak memiliki ijin resmi dan tidak terdaftar.

Memanfaatkan Kemiskinan
Kondisi kemiskinan menjadi lahan subur bagi pelaku kejahatan perdagangan manusia untuk melancarkan aksinya.
Di desa-desa misanya, rakyat semakin sulit mendapatkan pekerjaan tambahan, terlebih sektor pertanian sudah tidak lagi menjanjikan. Sementara di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dll, situasinya tidak lebih baik: mencari lapangan pekerjaan sama sulitnya dengan mencari jarum di tengan lautan.
Para pelaku kejahatan datang menawarkan mimpi, yaitu pekerjaan yang baik di luar negeri, upah yang tinggi, dan kemudahan untuk diberangkatkan.
Meskipun kisah pilu para TKI di luar negeri sudah terdengar hampir setiap hari di layar kaca, tetapi tetap saja banyak rakyat Indonesia yang menaruh mimpi untuk sukses di luar negeri.

Gerakan Anti-Nuklir Di Jerman


Sejak kemarin aktivis anti-nuklir di jerman menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menentang pengangkutan sampah nuklir lewat jalur kereta api dari perancis menuju kota Gorleben, Jerman utara, tempat dimana sampah nuklir itu akan disimpan.

Media setelah melaporkan antara 30.000 sampai 50.000 aktivis menduduki lapangan, jalan, dan jalur kereta di sebelah utara kota Danneberg.

Kereta tersebut diperkirakan membawa 123 ton limbah radio-aktif menuju kota Dannenberg, sebelum akhirnya diangkut menuju tempat penyimpanan terakhir di kota Gorleben.
Polisi menggunakan pentungan, semprotan merica, dan gas air mata untuk membubarkan demonstran yang memblokade jalur kereta api.

Demonstran berusaha membalas dengan menggunakan kembang api dan lemparan batu. Namun, polisi bertindak brutal dengan memukuli dan menangkap sejumlah demonstran.
Demonstran berusaha menggali lubang dibawah rel, sebagai cara untuk memutus laju kereta pembawa limbah nuklir—yang disebut juga “roda Chernobyl”.

Polisi terpaksa harus membersihkan 60-an traktor yang memblokir jalan utama antara Dannenberg dan Gorleben, sekitar 12 kilometer dari gudang penyimpanan.


Terbesar dalam 30 tahun terakhir

Demonstrasi kali ini disebut-sebut aksi anti-nuklir terbesar dalam 30 tahun terakhir di Jerman. Demonstrasi ini diorganisasikan oleh Partai Hijau (Die GrĂ¼nen) dan Partai Kiri (Die Linke).
Wolfgang Ehmke, salah seorang jurubicara aksi ini, mengatakan bahwa usaha menganggu pengiriman melalui blockade bukan hanya untuk menunda kedatangan limbah nuklir, tetapi juga untuk melawan kebijakan nuklir terbaru pemerintahan konservatif-liberal, Angela Merkel.
Pemerintahan Merkel baru saja memperpanjang jangka waktu operasi PLTN yang ada, yaitu sekitar 8 sampai 14 tahun.

Jajak pendapat memperlihatkan bahwa mayoritas rakyat Jerman menentang perluasan pengembangan nuklir. Namun, pemerintahan Angela Merkel menganggap tenaga nuklir sebagai jembatan teknologi yang diperlukan untuk menutupi kebutuhan negara.

Sebaliknya, partai hijau beranggapan bahwa perluasan tenaga nuklir akan menghambat pengembangan energi alternatif yang ramah lingkungan.

Claudia Roth, seorang politisi terkemuka partai hijau, mengatakan pada akhir pekan ini bahwa pihaknya akan membawa isu nuklir dalam pemilu negara pada tahun 2013 mendatang.
Oposisi hijau dan Sosial demokrat berjanji untuk memerangi kebijakan nuklir di mahkamah konstitusi Jerman. Jajak pendapat menunjukkan bahwa, jika pemilu diselenggarakan sekarang, maka oposisi akan dengan mudah mengalahkan Merkel.

Minggu, 07 November 2010

SEMAUN

 
 
Semaun (lahir di kota kecil Curahmalang, Mojokerto, Jawa Timur sekitar tahun 1899 dan wafat pada tahun 1971) adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI).

Masa kecil

Semaun adalah anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api. Meskipun bukan anak orang kaya maupun priayi, Semaoen berhasil masuk ke sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore hari. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Karena itu, ia kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis (klerk) kecil.

Politik

Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu.

Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi. Di tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.

Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.

Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.

PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil.

Pengasingan

Pada tahun 1923, VSTP merencanakan demonstrasi besar-besaran dan langsung dihentikan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan setelah itu Semaun diasingkan ke Belanda. Selama masa pengasingannya dia kembali ke Uni Sovyet, dimana dia tinggal disana lebih dari 30 tahun. Pada masa itu dia tetap menjadi aktivis tapi hanya dalam aksi-aksi terbatas, berbicara beberapa kali di Perhimpunan Indonesia, organisasi mahasiswa di Belanda pada masa itu. Dia juga sempat belajar di Universitas Tashkent untuk beberapa waktu.

Selama pembuangan ke Eropa, Semaoen aktif di Executive Committee of the Comintern, Komite Eksekutif Komunis Internasional (ECCI). Setelah beberapa tahun tinggal di Belanda, Semaoen lalu menetap di Uni Soviet dan menjadi warga negara di sana. Ia pernah bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia dan penyiar berbahasa Indonesia pada radio Moscow. Puncak "karirnya" adalah ketika diangkat oleh Stalin menjadi pimpinan Badan Perancang Negara (Gozplan) di Tajikistan.

Setelah masa pengasingannya dia kembali ke Indonesia, dan pindah ke Jakarta. Kepulangan Semaoen ke Indonesia pada tahun 1953 merupakan inisiatif Iwa Kusumasumantri. Semaoen, Iwa, dan Sekjen Partai Komunis Iran mengawini tiga putri kakak-adik yang saat itu bekerja dalam Comintern. Saat kembali ke Indonesia dalam usia setengah abad lebih, Semaoen telah terputus dari PKI, partai yang ia dirikan. Dari tahun 1959 sampai dengan tahun 1961 dia bekerja sebagai pegawai pemerintah. Dia juga mengajar mata kuliah ekonomi di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Referensi
  • Jarvis, Helen (1991). Notes and appendices for Tan Malaka, From Jail to Jail. Athens, Ohio: Ohio University Center for International Studies.
  • Kahin, George McT. (1952) Nationalism and revolution in Indonesia. Ithaca, New York:Cornell University Press.
  • Ricklefs, M.C. (2001) A history of modern Indonesia since c.1200 3rd ed. Stanford, California:Stanford University Press

SEMAUN

SEMAUN
Selamanja saja hidoep, selamanja saja akan berichtiar menjerahkan djiwa saja goena keperloean ra'jat Boeat orang jang merasa perboetannja baik goena sesama manoesia, boeat orang seperti itoe, tiada ada maksoed takloek dan teroes TETAP menerangkan ichtiarnja mentjapai Maksoednja jaitoe HINDIA MERDIKA DAN SLAMAT SAMA RATA SAMA KAJA SEMOEA RA'JAT HINDIA (Semaoen, 24 Djoeli 1919)

Text Widget

Text Widget