MEDIA PENDIDIKAN EKONOMI & POLITIK
Tampilkan postingan dengan label KEBUDAYAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEBUDAYAAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 November 2010

Cerpen: Lelaki Tua dan Becaknya


Akhirnya aku putuskan untuk mampir  juga ke rumah kontrakan Lelaki Tua di Kota T.  Aku mendapatkan alamatnya dari seorang kawan via sms. Lelaki Tua itu tinggal di Kampung A RT 17/RW 08 No 45. Begitu mudah dihapalkan: tujuh belas agustus tahun empat lima, bagian lagu yang populer pada masa sekolah terutama ketika menjelang, selama  dan beberapa hari sesudah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Bukankah itu hari yang tak mungkin dilupakan?
Di kota T, Lelaki Tua dicintai anak-anak. Lelaki Tua memang belum punya anak. Ia bahagia anak-anak berkumpul di sekitarnya dan anak-anak pun bahagia bila bersama Lelaki Tua dan becaknya. Becaknya begitu lebar sehingga bisa menampung anak-anak dalam jumlah banyak. Sambil mengayuh becak ia bercerita dan bernyanyi. Nyanyiannya bagus-bagus. Anak-anak suka. Banyak orang tua kemudian percaya pada Lelaki Tua dan menyerahkan anak-anaknya untuk diantar  berangkat ke sekolah dan pulang ke rumah dengan memberikan uang bulanan yang cukup. Dengan cara itulah ia mulai menabung.
Ia menabung terus dan terus. Orang-orang mulai curiga bahwa Lelaki Tua akan kawin lagi karena menginginkan anak sebab isterinya tak dapat memberikan anak. Lelaki Tua tahu bahwa ia menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Suatu kali  ia mengatakan dalam sebuah pertemuan warga bahwa ia menabung untuk membeli mobil angkot. Orang-orang pun heran bahwa Lelaki Tua hendak mengubah profesi dari tukang becak menjadi sopir angkot. Sebagian mencibir tak percaya bahwa Lelaki Tua bisa membeli mobil angkot. Sebagian lagi  menyarankan agar Lelaki Tua menerima hidupnya dengan terus menjadi tukang becak bahkan seharusnya bersyukur sudah mendapatkan langganan tetap antar jemput dengan pendapatan lumayan. Lagi pula usia  sudah memasuki kepala 7 apalagi yang hendak dicari? Apakah masih bisa menjadi sopir angkot?
Lelaki Tua pun menjawab bahwa hidup harus berubah. Orang-orang pun menyarankan agar Lelaki Tua belajar dulu menyopir sebelum membeli mobil angkot. Lelaki Tua pun menurut dan mulai belajar menyopir pada rekannya yang sudah lebih dahulu menjadi sopir angkot.
Aku pun mulai menyusuri jalan dan lorong yang mengantarkan aku ke rumah Lelaki Tua. Berkali-kali ia dengan penuh harap selalu meminta aku untuk mampir ke rumah kontrakannya. Tapi selalu juga aku menjawab: “Ok. Suatu kali nanti aku mampir. Aku harus jalan lagi.” Begitulah selalu bila aku bertemu dengannya entah di acara seminar, diskusi, atau sesudah sama-sama terlibat dalam aksi demonstrasi.  Dan tanpa rasa kecewa: ia pun menjawab: “Ok. Tetap semangat,” sambil menjabat tanganku erat dan bersemangat secara komando dengan tangan kanannya yang kokoh.
Lelaki Tua sederhana itu sejak mula kukenal sebagai tukang becak yang cerdas dan berani. Aku tahu ia beristeri tapi aku jarang melihat ia mengajak isterinya dalam berbagai acara yang diikuti. Aku masih ingat pertemuan pertamaku dengannya saat kami sama-sama marah atas perlakuan Pemerintah terhadap Partai Banteng. Partai itu dipecah-belah, anggota dan kadernya diteror dan diintimidasi. Kantornya diserbu dan yang bertahan di kantor itu dibunuh. Kudengar dari orang-orang yang mengenalnya, Lelaki Tua itu termasuk salah satu anggota partai yang ikut berjaga di kantor itu pada  malam penyerbuan jahanam itu. Ia berhasil lolos.
Luar biasa. Ia hanya tukang becak. Tapi semangat membacanya tinggi. Semua selebaran, majalah dan tabloid yang aku jual, selalu dibeli dengan senyum. Lebih dari itu, terkadang ia masih sempat menraktir makan atau sekadar minum-minuman ringan bila berjumpa dalam aksi demonstrasi.
“Kalau untuk aksi, kuusahakan selalu ikut,” katanya suatu kali.
“Tapi jangan hanya aksi saja diikuti. Diskusi dan membaca juga penting,” kataku.
“Ya. Tentu. Perkumpulan Tukang becak sudah siap dibentuk. Kamu harus datang ke acara pemilihan pengurus karena kami akan sekaligus mendiskusikan marhaenisme ajaran Bung Karno.”
“Wow. Luar biasa. Berapa anggotanya?”
“Sementara 20 orang. Kamu bisa bantu mengajar filsafat kan?”
Aku menjawab bisa. Waktu itu Jendral Besar belum jatuh. Aku datang ke pertemuan pembentukan perkumpulan tukang becak itu. Berdua puluh-an mereka berkumpul di rumah seorang pengurus Partai Banteng yang sedang dipecah-belah dan dihancurkan itu. Wajah-wajah yang bersemangat untuk berkumpul dan membikin perhitungan dengan ketidakadilan itu tidak menampilkan diri sebagai para tukang becak yang setiap hari bergelut dengan kebutuhan mendesak ekonomi tapi mereka berkumpul dan berbicara politik  serta melakukan perjuangan politik.
“Kita akan memboikot pemilu agar pemilu menjadi tidak sah di hadapan rakyat,” seru Lelaki Tua yang dipilih menjadi ketua Perkumpulan Tukang Becak Kota T, “kabarkan pada seluruh kawan tukang becak di kota T ini untuk tidak ikut pemilu karena pemerintah telah bertindak curang dengan menghancurkan dan memecah-belah Partai Banteng.”
Sesudah Lelaki Tua menjadi ketua Perkumpulan Tukang Becak di Kota T itulah, kami menjadi semakin sering bertemu. Sebagai orang yang bertanggung jawab dalam perluasan organisasi Partai, aku diwajibkan untuk mendorong perkumpulan tukang becak itu bertemu dengan berbagai kelompok kaum miskin kota seperti pengamen, pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima dan berbagai sektor pekerjaan informal lainnya serta perkumpulan buruh dan mahasiswa di Kota T. Kami pun semakin akrab dalam pertemuan atau rapat-rapat antar ketua-ketua organisasi massa kaum miskin kota, mahasiswa dan buruh tersebut.
“Bagaimana kamu bisa menjadi pengagum Bung Karno?” tanyaku suatu kali.
“Hanya Bung Karno yang mencintai wong cilik seperti saya. Ia selalu menyebut Tukang Becak dalam setiap pidatonya.”
“Itu pekerjaanmu sejak mula?”
Lelaki tua tak menjawab.
***
“Akhirnya Bung, sampai juga di rumah kontrakan kaum marhaen ini,” sapanya menyambutku begitu aku sampai di halaman deretan rumah petak yang salah satunya dihuni Lelaki Tua. Ia sedang membersihkan becak kesayangannya dan tentu saja kesayangan anak-anak itu.
“Ya. Senang sekali bisa mampir ke rumah Bung ini. Lelaki Tua yang bersemangat perubahan.” Lelaki Tua tersenyum.
Kami bicara panjang lebar tentang masa-masa melawan Jendral Besar dan bagaimana kami bisa bertemu dan berkawan. Kami pun bercerita tentang kawan-kawan pergerakan selama melawan Jendral Besar.  Ada yang berubah dan ada yang tetap.
“Becak ini akan aku singkirkan dari penghidupanku,” kata Lelaki Tua tiba-tiba.
“Ya. Aku dengar kamu akan menggantinya dengan mobil angkot dan kini sedang menabung?”
“Ya. Aku tidak perlu romantis dengan becak ini. Menjadi kaum marhaen yang baik kan tidak harus selalu menjadi tukang becak atau wong cilik kan?” Aku tidak menjawab hanya mengangguk.
Terus terang aku mengagumi hidupnya walau aku tak begitu tahu asal-usulnya, Lelaki Tua adalah tukang becak yang mengerti politik dan cita-cita hidupnya. Ia pun sanggup mengubah hidupnya demi cita-citanya dan untuk itu Lelaki Tua seperti tak lelah mengarungi jaman.
***
“Mobil angkot sudah kubeli,” kabarnya via sms
“Becakmu?”
“Kuberikan pada ketua baru Perkumpulan Becak di Kota T. Semoga kawan-kawan tukang becak, tetap berkumpul. Aku hanya berpesan: cintailah anak-anak. Aku siap menjalankan tugas sejarah berikutnya.”
“Wah..hebat. Bung masih berniat terlibat dalam perjuangan pada umur setua itu.”
“Apakah Bung berniat pensiun bila sudah setua aku?”
Lama aku tidak menjawab. Lelaki Tua mengirimkan sms lagi:
Kebahagiaan yang sejati adalah selalu dalam perjuangan.
Aku menjawab: semoga…
*****
Jakarta, 1 Oktober 2010
Untuk D di kota T

Selasa, 09 November 2010

Diskusi Seni Rupa: Ini Soal Revolusi, Soal Menuntaskan Kemerdekaan


JAKARTA: Dua pelukis revolusioner Indonesia, Amrus Natalsya dan Misbach Tamrin, keduanya juga merupakan pendiri sanggar Bumi Tarung, mengatakan bahwa seni rupa harus mengabdi kepada rakyat dan Revolusi 1945 yang belum selesai.
Berbicara dalam diskusi ‘seni rupa hari ini”, yang digelar oleh panitia festival kemerdekaan 2010, siang tadi (4/8), baik Amrus maupun Misbach, menggaris-bawahi arti penting seni rupa yang harus melakukan pembelaan kepada rakyat, khususnya klas pekerja dan tani, dan mengajak mereka untuk berlawan.
Didaulat untuk berbicara pertama, Misbach menjelaskan, bahwa realisme sebagai aliran gaya pengucapan seni sudah diketahui sejak jaman Yunani Kuno, bahkan lukisan artefak di gua Almitra (Spanyol) sudah bisa dikategorikan karya realis, karena menggambarkan situasi perburuan saat itu.
Di Indonesia sendiri, menurut penjelasan Misbach, realisme sebagai alat perjuangan anti-kolonial sudah dirintis oleh Raden Saleh, yang ditandai pada dua karyanya yang terkenal; “penangkapan pahlawan Diponegoro” dan “Tarung Banteng Macan”.
Selanjutnya adalah kelahiran kelompok Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), yang secara terang-terangan dan gamblang mengambil bentuk realisme sosial, sebagai cara untuk menghasilkan karya yang mengabdi kepada pembebasan nasional, katanya.

Pada tahun 1950-an, setelah rakyat mengetahui bahwa revolusi Agustus belum selesai, para seniman saat itu menggunakan realisme revolusioner untuk membela kaum buruh dan tani dalam menghadapi penindasan feodalisme dan kapitalisme, ujar pelukis yang juga sesekali menulis ini.
Misbach juga menolak untuk disebutkan bahwa Sanggar Bumi Tarung ataupun Lekra merupakan garda depan realisme sosialis. Menurutnya, karena kesenian merupakan kaca pembesar untuk menggambarkan keadaan suatu jaman, maka keberadaan kesenian di Indonesia belum bisa dikatakan realisme sosialisme karena belum ada susunan masyarakat sosialistik.
“AS Dharta dan Pramoedya itu, ketika menulis soal realisme sosialis, itu hanya mencoba memberi pengetahuan dan dan perbandingan semata-mata,” ujarnya untuk sekedar mengingatkan.
Setelah orde baru berkuasa dan menggusur lekra dan karya-karyanya, Misbach menjelaskan, seni yang berkembang di Indonesia adalah kebanyakan berbentuk seni abstrak, yang kemudian sekarang ini sering disebut seni rupa kontemporer.
Realisme kembali mengalami kebangkitan saat munculnya karya-karya yang mulai melontarkan kritik terhadap rejim Soeharto, kata Misbach, sambil mengutip kelahiran realisme jogja, dan dipertegas lain dengan kemunculan Semsar Siahaan dan Taring Padi yang mulai mengangkat kembali realisme.
Sekarang ini, Misbach mencatat pula bahwa realisme semakin mendapat tempat di kalangan seniman, namun isinya lebih banyak berisikan tema-tema absurd, penuh misteri, dan pelecehan atau plesetan terhadap tokoh-tokoh revolusioner dunia.
Sejak Andi Warhol dan kawan-kawan menemukan pop-art, suatu aliran yang berbasiskan kepada realisme fotografis, maka realisme pun berkembang sangat luas tapi kebanyakan dikembangkan untuk kepentingan iklan bisnis dan propaganda kapitalisme, demikian penjelasan Misbach Tamrin.
Sementara itu, pelukis Amrus Natalsya lebih menyoroti soal persoalan-persoalan Indonesia kekinian, yang menurutnya, sedikit banyak mempengaruhi perkembangan karya seni rupa saat ini.
Berpatokan kepada peringatan HUT kemerdekaan, Amrus menjelaskan, kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari siapapun, sangat berbeda dengan, misalnya, Malaysia dan Singapura.
“saat proklamasi, ketika itu saya sudah berusia 12 tahun, saya faham betul ada semangat kaum terjajah untuk mengakhiri situasi keterjajahan itu. Hasrat untuk merdeka dan menjadi tuan di negeri sendiri melahirkan watak anti-penjajahan dan berpartisipasi aktif dalam perjuangan anti-kolonial,” ujarnya.
Terkait perkembangan seni rupa saat ini, Amrus menandai lahirnya sebuah ‘permainan’ yang sepenuhnya dikendalikan oleh kapitalis. “jadi, meskipun karya-karya itu melecehkan tokoh revolusioner seperti Mao Tse Tung, atau melecehkan tokoh pembebasan nasional seperti Bung Karno, itu tak jadi soal bagi mereka. Asalkan mendatangkan untung,’ kata Amrus mencontohkan.
Sehingga, menurut penjelasan dia, penghancuran karakter suatu bangsa sekarang ini tidak lagi sekedar melalui film-film cabul, tetapi karya seni rupa yang “nyeleneh” pun sudah mendidik orang untuk melecehkan bangsanya sendiri.
“Ada seniman yang tidak segan-segan melecehkan Bung Karno dalam karyanya, tanpa menyadari bahwa, tanpa kehadiran dan perjuangan tokoh-tokoh pembebasan di masa lalu, maka tidak ada kemerdekaan sekarang ini,” tegas pelukis yang karyanya pernah dikoleksi oleh Bung Karno ini.
Amrus juga menyatakan keprihatinan terhadap situasi sekarang ini, dimana aparatus negara berperan untuk menindas rakyatnya sendiri, misalnya dalam kasus kekerasan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). “Satpol PP itu bukan tujuan revolusi, karena revolusi itu mau menghilangkan penindasan terhadap rakyat sendiri. Rakyat tidak menjadi tuan di rumah sendiri,” ujarnya.
Untuk itu, Amrus mengajak para pemuda untuk merenungkan perkataan Nyoto, “tahu segala sesuatu, dan tahu sesuatu tentang segala.” Umpamanya, kalau kita tahu tentang revolusi, kita tahu sejarah soal revolusi itu. Kalau tahu segala tentang revolusi, maka kita harus tahu soal revolusi itu sendiri. Fikiran ini berlaku untuk segala hal, termasuk soal pengetahuan dan bidang-bidang lainnya.
kita sedang dalam era yang betul bebas, kata Amrus, sambil menandai suatu suatu era dimana kebebasan itu benar-benar tanpa koridor. “Anda kalau punya “duit”, bisa mencetak buku dan menulis sebebas-bebasnya. Anda bebas untuk melecehkan bangsa sendiri atau memujinya. Asalkan bisa laku,” katanya, sambil menandaskan bahwa seni rupa juga mengalami situasi demikian.
Amrus menjelaskan, sekarang ini tidak ada partai politik yang kuat dalam lapangan kebudayaan, punya pemikir-pemikir soal kebudayaan, yang bisa menjaga dan memperjuangkan kebudayaan nasional.
Di saat penghancuran karakter nasional sekarang ini, Amrus menandai sebuah fenomena baru di masyarakat kita, yaitu “masyarakat happy”, yang merubah mental individu dan tanggung jawab kita.
“Ibaratnya, kita berjalan di pinggir jurang. Di bawah itu dunia jurang “happy”, sedangkan di atas jurang penderitaan rakyat. Jurang penderitaan rakyat itu sudah penuh sesak. Tetapi jurang “happy” ini masih terbuka, dan menjadi dominan di dalam segala lini kehidupan rakyat kita,” ujar Amrus Natalsya, sambil mencontohkan fenomena “keong racun”.
Dalam masyarakat “happy” ini, tidak ada lagi arti penting untuk berjuang, melakukan pemihakan terhadap kelas buruh dan tani. Inilah hal-hal yang membunuh jiwa dan karakter nasional kita.
Ditanyakan soal kontemporer revolusioner, Amrus mengatakan, bahwa seni rupa dunia sedang berada di dalam “kontemporer”, tanpa mempedulikan negara itu menganut sistim kapitalisme dan sosialisme.
Menjawab pertanyaan soal “kontemporer-revolusioner”, Amrus mengibaratkan, ketika kita sedang menaiki perahu. Kita memegang dayung. Dayung itu saya sebut revolusioner. Sedangkan perahunya, bisa kontemporer atau realisme. Semua perahu sekarang ini adalah kontemporer. Tapi, kita tetap harus membawa dayung yang revolusioner itu. Jangan ditinggalkan,” katanya.
Amrus menambahkan, bahwa dalam kontemporer revolusioner itu, maka persoalan-persoalan itu digambarkan lebih sederhana, mendalam, dan kuat. Inilah yang membedakan kontemporer revolusioner dengan yang lainnya.
Ketiga prinsip kontempor revolusioner itu, katanya, harus didasarkan kepada beberapa hal, yaitu originalitas, kreatifitas, dan ilmiah.
Di tengah berbagai persoalan bangsa saat ini, Amrus mengatakan, “ kita harus bangkit. Dan bangkit itu haruslah dengan politik. Politik yang memimpin gerakan rakyat.”
Menutup diskusi ini, Amrus seolah memberi kita dua pilihan; apakah kita masih mau meneruskan revolusi yang belum selesai, dalam hal ini revolusi Agustus 1945? ataukah kita sudah berhenti dan memilih masyarakat “happy”.

FX Harsono: Pemerintah Tidak Memperhatikan Persoalan Kebudayaan


JAKARTA:  Perupa Indonesia kenamaan, FX Harsono, menilai, pemerintah kurang memperhatikan kebudayaan dalam orientasi pembangunan di Indonesia, sehingga banyak sekali proses pembangunan yang tidak sesuai atau kurang peka dengan tuntutan masyarakat.
Demikian dikatakan FX Harsono saat menjadi pembicara dalam diskusi berjudul “National and Character Building”, di Jakarta, Sabtu (21/8). Dengan panjang lebar, FX Harsono menguraikan persoalan-persoalan kebudayaan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.
Harsono mengatakan, segera setelah Bung Karno digantikan oleh rejim Soeharto dan gagasan-gagasannya juga turut dihapus, maka kebudayaan pun mulai dihilangkan dalam pembicaraan strategi pembangunan.
Sekarang ini, menurutnya, pemerintah sendiri mengartikan kebudayaan secara salah. “Kebudayaan sekedar dilihat sebagai ritual dan kesenian. Di sini, anggapan pemerintah soal kebudayaan hanyalah upacara-upacara dan ritual, sementara sektor kehidupan yang lain, misalnya sikap dan perilaku, dianggap bukan soal kebudayaan.
Akibatnya, Harsono menjelaskan, kebudayaan diletakkandi bawah departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dimana kebudayaan dianggap sebagai komoditi yang dapat memicu tumbuhnya pariwisata.
Lebih jauh, Harsono mengatakan, banyak sekali konflik-konflik sosial yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh hilangnya pemahaman soal kebudayaan.
Dalam pembangunan, sebagai missal proses industrialisasi, pemerintah tidak menempatkan manusia sebagai bagian dari penciptaan industri itu sendiri. Akibatnya, banyak sekali proses industrialisasi yang mengorbankan kemanusiaan, demikian dikatakan Harsono.
Dia mencontohkan, ketika pemerintah memutuskan konversi gas, sementara kebudayaan masyarakat memahami bahwa setiap bahan bakar pasti memiliki bau, sehingga banyak sekali kasus ledakan gas dipicu oleh ketidaktahuan masyarakat.
“Itu salah pemerintah. Dia tidak mengetahui budaya memasak masyarakat, tata cara berfikir mereka soal penggunaan energi bahan bakar,” katanya.
Harsono pun berbicara soal gerakan renaissance (bahasa Perancis, renaisans) di eropa dan hubungannya dengan perjuangan kebudayaan. Menurutnya, ada tiga ciri dari gerakan renaissance itu: pertama, penghargaan terhadap manusia atau kemanusiaan. Kedua, penghargaan terhadap kesenian. Ketiga, penghargaan terhadap keragaman beragama.
Di Indonesia, kata Harsono, tidak ada penghargaan terhadap kemanusiaan, sambil mengambil contoh pada cara pemerintah memperlakukan orang-orang miskin.
Demikian pula dengan kesenian, yang menurut Harsono, sama sekali luput dari perhatian pemerintah saat ini. “kesenian kita tumbuh dan berkembang sendiri, selama bertahun-tahun, tanpa dukungan pemerintah,” ujarnya.
Persoalan serupa juga muncul saat agama dilepaskan dari persoalan kebudayaan, dan kemudian dimasukkan ke ranah politik, maka agama sekedar menjadi alat untuk pertarungan kekuasaan dan mempertahankan kekausaan, katanya.
“Dulu, ketika agama masih melekat pada kebudayaan, masyarakat kita hidup sangat rukun dan damai,” katanya.
Di bidang pendidikan juga begitu, dimana proses pendidikan dipisahkan dari persoalan budi pekerti dan keadaan sosial di sekitarnya. “Kita punya agama dan moral pancasila, itu bisa menjadi unsur budi pekerti dari pendidikan,” tegasnya.
FX Harsono memperingatkan bahwa dunia sekarang sudah berubah, dan perubahannya sangat cepat sekali. Karenanya, kaum muda dan pekerja budaya menghadapi situasi yang benar-benar berbeda dengan masa-masa sebelumnya, khususnya dalam perkembangan teknologi informasi.
Sekarang ini, FX Harsono menandai perkembangan baru dalam seni rupa Indonesia, khususnya seni rupa kontemporer, yaitu perubahan dari modern ke post-modern, dimana dalam dunia post modern tidak ada lagi orientasi atau kiblat dalam berkesenian.
Secara pribadi, FX Harsono menganjurkan agar pekerja seni tetap terbuka, tidak berprasangka, tetap kritis terhadap persoalan, dan menghilangkan segala “rintangan” yang menghalangi pandangan mereka dalam berkarya.

SEMAUN

SEMAUN
Selamanja saja hidoep, selamanja saja akan berichtiar menjerahkan djiwa saja goena keperloean ra'jat Boeat orang jang merasa perboetannja baik goena sesama manoesia, boeat orang seperti itoe, tiada ada maksoed takloek dan teroes TETAP menerangkan ichtiarnja mentjapai Maksoednja jaitoe HINDIA MERDIKA DAN SLAMAT SAMA RATA SAMA KAJA SEMOEA RA'JAT HINDIA (Semaoen, 24 Djoeli 1919)

Text Widget

Text Widget